wanita mulia

Sabtu, 2 Maret 2013 14:35:55 - by : Iwan Muhaimin
print send pdf

Kemuliaan Wanita

Dengan kecantikan yang Anda miliki, lebih anggun daripada mentari. Anda, dengan akhlak yang Anda miliki lebih harum daripada kesturi. Anda, dengan kerendah hatian yang Anda miliki, lebih tinggi daripada rembulan. Anda, dengan sifat keibuan yang Anda miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. Karena itu, peliharalah kecantikan itu dengan iman, peliharalah keridhaan itu dengan sikap qanaah dan peliharalah kesucian diri itu dengan hijab. (Aidh al-Qarni)

Ungkapan ini tampaknya dilatarbelakangi oleh berkembangnya banyak persepsi salah tentang tolok ukur kemuliaan seorang wanita. Pernyataan ini merupakan satu upaya untuk menolak berbagai syubhat berbahaya yang sudah menyentuh wilayah akidah. Yaitu, adanya anggapan bahwa dengan fisik cantik, seorang wanita akan mampu meraih kemuliaan dan mendapatkan kebahagiaan.

Anggapan ini tidak bersumber dari Islam. Sebab, kemuliaan seorang wanita tidak terletak pada kecantikan wajah, keelokan tubuh dan banyaknya perhiasan. Dalam Islam ketiga hal tersebut adalah fitnah (ujian) bagi wanita yang bukan saja bisa membawanya menuju kemuliaan, tapi juga bisa menyeretnya ke lembah kebinasaan.

Kenyataannya, tidak sedikit wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih dan tubuh yang ramping.

Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise. Bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa teralienasi dari pergaulannya. Padahal kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia.

Banyak juga wanita yang terjerumus pada penuhanan materi. Bagi mereka, materi adalah harga diri. Dengan anggapan tersebut mereka mau melakukan apapun untuk meraihnya. Bahkan tubuhnya pun dengan mudah dapat dikorbankan.

Dalam konteks ini, mereka bukannya jadi terhormat, justru bernilai
rendah di hadapan Allah SWT. Di satu sisi mereka bersikap \"mendua\",
mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, tetapi pada saat yang sama mereka
menuhankan fisik dan materi. Di sisi lain, pengorbanan \"mutiaranya\" akan membuat orang yang melihatnya tidak mengormati mereka.

Pengaruh media massa
Kenyataan ini tidak bisa lepas dari pengaruh media massa, baik cetak maupun elektronik. Kekuatan media massa terletak pada pengaruhnya untuk membentuk opini umat.

Dengan intensitas yang ketat, media massa terutama televisi bukan saja menawarkan hiburan, tapi juga secara tidak langsung telah menawarkan nilai, budaya dan prinsip hidup. Secara perlahan tapi pasti, sajian televisi yang asalnya menjadi tontonan saja berubah menjadi tuntunan penontonnya, padahal tidak semua sajian televisi menawarkan nilai yang sama dengan penontonnya.

Kondisi yang terburuk adalah ketika sajian televisi menjadi pengendali tren (trendsetter) di berbagai aspek kehidupan seperti pola pikir, tingkah laku, dan akidah, sehingga semua yang ada di televisi menjadi patokan penontonnya dalam kehidupan nyata.

Nampaknya, sajian televisi yang begitu mengagungkan wanita berparas cantik, berkulit putih, dan berbadan ramping telah mempengaruhi persepsi kebanyakan wanita Muslimah dan masyarakat pada umumnya. Padahal itu semua salah dan bertentangan dengan Islam.

Di dalam Alquran, Allah SWT menyatakan sebaliknya, bahwa tolok ukur kemuliaan itu adalah ketakwaan bukan kemolekan fisik. Firman-Nya,
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat <49>:13).

Ketakwaan itu ada di dalam hati. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak melihat seseorang dari bentuk tubuhnya tetapi melihat hati dan amalnya.

Meraih kemuliaan
Sesungguhnya kemuliaan dapat diraih seorang wanita manakala ia memiliki kemampuan untuk menjaga martabatnya dengan iman, menerima semua karunia yang Allah berikan, menghijab dirinya dari kemaksiatan, menghiasi semua aktivitasnya dengan ibadah dan memberikan yang terbaik terhadap sesama. Seorang wanita yang mampu melakukan semua itu akan mulia di hadapan Allah dan terhormat di hadapan manusia.

Sejarah mencatat bahwa di dunia Islam, sudah sejak dulu banyak muncul wanita-wanita mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini. Seperti Khadijah RA yang namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.
Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan dirinya, namun karena pengorbanannya dalam mendukung perjuangan Rasulullah SAW mendakwahkan Islam.

Begitu pun Aisyah RA, salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat berbagai disiplin ilmu, seperti fikih dan tafsir. Pada masanya, Aisyah RA ditahbiskan menjadi ulama, guru para sahabat. Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk hanya dengan sebilah tiang kemah.

Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya. Di antara mereka ada yang menjadi guru imam mazhab terkenal.
Imam Abu Hayyan mencatat tiga nama wanita yang menjadi guru Imam Syafii, yaitu Munisat Al Ayyubiyah, Syamiyat Attaimiyah, dan Zainab binti Abdul Lathif Al Baghdady. Dan masih banyak yang lainnya.

Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat) dan memelihara diri dari kemaksiatan. Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi. Bagi mereka, fisik hanya perhiasan saja yang dalam waktu lama akan hancur, sehingga fisik seperti apapun tidak banyak mempengaruhi kehidupan mereka. Wallaahu alam

 

Tags : hikmah

More :

0 Respon to "wanita mulia"

Comment visitor

Name* :
Email* :
Website :
Comment* :
Caphca* :
   
   

Kontak •  Berita •  Lowongan •  Gallery •  Al-Quran Online •  Peta Situs •  RSS