Isra Miraj

Sabtu, 8 Juni 2013 04:59:15 - by : Iwan Muhaimin
print send pdf

Hikmah Isra Miraj


Peringatan Isra Miraj dapat menjadi momentum evaluasi terhadap shalat kita selama ini, juga membangkitkan kepedulian umat terhadap Masjid Aqsha dan Muslim Palestina. Hari Kamis, 6 Juni 2013, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1434 Hijriyah, umat Islam memperingati peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Yaitu, salah satu mukjizat Nabi SAW berupa perjalanan malam hari dari Masjid Haram (Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina) dilanjutkan dengan naik ke Sidratul Muntaha menghadap Allah SWT. Dalam Alquran, peristiwa itu disebutkan dalam dua ayat.
Peristiwa Isra disebutkan dalam QS. Isra: 1, Mahasuci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada waktu sebagian dari malam hari dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsha yang telah Kami beri berkah sekelilingnya agar Kami dapat menunjukkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami... Sedangkan peristiwa Miraj disebutkan dalam QS. An-Najm: 13-18: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muhtaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. Tujuan Isra Miraj adalah untuk memperlihatkan sebagian bukti atau tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT (QS. 17:1) serta untuk menguji keimanan manusia (QS. 17:60).
Di kalangan ulama muncul pendapat, tujuan Isra Miraj adalah lit-tatsbit (untuk memantapkan atau mengukuhkan Nabi SAW dalam posisi kenabian dan kerasulannya), lit-takrim (untuk memuliakan Nabi SAW sebagai makhluk pilihan Allah SWT), dan listidalil quwah (untuk mempersiapkan kekuatan jasmaniah, ruhaniah, dan aqliah Nabi SAW dalam menjalankan tugas-tugas kenabian dan kerasulannya). Sebelum Isra Miraj, situasi dan kondisi Nabi SAW sangat memprihatinkan karena wafatnya paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Siti Khadijah. Padahal, keduanya merupakan pelindung dan pendukung utama Nabi SAW dalam mengemban risalah Islam. Dengan Isra Miraj, keimanan atau kekuatan mental beliau bertambah kuat. Keganasan, kebrutalan, dan kekerasan umat yang didakwahinya dihadapi dengan kesabaran yang luar biasa, karena yakin akan perlindungan Allah SWT dan kebenaran risalah yang dibawanya.
Petikan hikmah Pertama, diriwayatkan, sebelum Isra Miraj, Nabi SAW dibedah oleh malaikat untuk membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk. Itu menunjukkan, sebelum menghadap Allah SWT untuk menjalankan ibadah, kita harus membersihkan dulu jiwa-raga kita, niat-hati dan jasmani, dari segala kotoran atau najis, dari niat yang tidak ikhlas, dan dari pemahaman-pemahaman yang sesat. Ibadah akan mardud atau tidak sah bila niat kita tidak ikhlas, dinodai bidah atau tidak didasari ilmu (QS. Al-Bayyinah: 5, Al-Hajj: 37, Al-Isra: 36 & 84, Al-Maun: 6).
Lebih luasnya, kebersihan jiwa-raga adalah suatu keharusan manakala kita menghadap Allah SWT di akhir kelak. Karena, al-Islaamu nazhifun, fatanazh zhafu fa innahu laa yadkhulul jannata illa nazhiif (Islam itu bersih, maka bersihkanlah jiwa-ragamu, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih). Tentu saja, untuk kebersihan itu, celupan-nya (shibghah) adalah Islam. Kedua, ketika Abu Thalib dan Siti Khadijah meninggal dunia, Nabi SAW merasa sedih luar biasa, sehingga tahun itu dinamakan Amul Hazn (Tahun Kesedihan). Itu menunjukkan, dalam berdakwah orang perlu pelindung, pendukung, atau pemacu semangat. Seorang dai perlu teman atau pendamping.
Siti Khadijah merupakan simbol seorang istri atau wanita yang menunjang perjuangan suami dalam berdakwah. Ketiga, dalam QS. 17: 1 Allah SWT menyatakan, Isra Miraj bertujuan antara lain untuk memperlihatkan sebagian ayat atau tanda (bukti) kekuasaan-Nya. Hal itu merupakan sinyal, kita pun harus memperhatikan ayat-Nya sehingga keimanan akan eksistensi dan kekuasaan Allah SWT tertanam kuat dalam diri. Ayat-ayat itu meliputi ayat qauliyah (firman Allah yang terhimpun dalam Alquran) dan ayat kauniyah (segala ciptaan Allah SWT). Keempat, salah satu tempat yang terkait dengan Isra Miraj adalah Masjid Aqsha. Setidaknya, momentum peringatan Isra Miraj kali ini dapat dijadikan momentum bangkitnya kepedulian terhadap nasib Al-Aqsha dan Muslim Palestina. Apalagi ada sinyal kaum Zionis hendak meruntuhkan masjid tersebut dan melenyapkan simbol-simbol Islam di Jerusalem.
Oleh-oleh Utama
Oleh-oleh utama Isra Miraj adalah perintah shalat. Shalat adalah satu-satunya kewajiban dan menjadi kebutuhan umat Islam yang amar-nya diturunkan langsung oleh Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa tingginya posisi ibadah shalat. Wajar, kalau kemudian shalat, sebagaimana tersebut dalam sejumlah hadis Nabi SAW, merupakan tiang agama, akan runtuh keislaman seseorang jika meninggalkan atau tidak mendirikan shalat. Sebab, shalat merupakan penentu diterima-tidaknya amal saleh seseorang serta menjadi ibadah (ritual) paling utama dalam Islam. Shalat juga merupakan amal perbuatan yang pertama kali dihisab di akhirat dan menentukan baik-buruknya amal seseorang.
Shalat merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan, pembeda (criterium) antara umat Islam dan kafirin, penentu kebaikan dan keburukan amal seseorang (QS. 29: 45, 70: 19-23), dan merupakan manifestasi inti akidah Islam (tauhid). Pada bulan Rajab, khususnya momentum peringatan Isra Miraj, seyogianya kita mengevaluasi shalat kita selama ini: sudahkah dilaksanakan sesuai sunnah Rasul? Sudah pahamkah kita akan makna bacaan dan gerakan shalat? Sudah khusyukah shalat kita selama ini? Berdampakkah shalat kita pada perilaku keseharian? Selain itu, dalam Alquran setidaknya disebutkan tiga golongan mushali atau pelaku shalat. Yaitu, : khasyiun, sahun, dan yuraun. Kita bisa melakukan introspeksi, termasuk kelompok manakah kita?
Golongan khasyiun (adalah mereka yang mendirikan shalat dengan sungguh-sungguh (khusyu), mengetahui ilmu shalat, ikhlas dalam mendirikannya, menjadikan shalat sebagai kebutuhan, serta merealisasikan apa yang diucapkannya dalam shalat dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, shalat golongan ini berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45). Golongan sahun (QS. 107:5) adalah mereka yang melakukan shalat dengan lalai, sering (atau sengaja) lupa karena tidak merasakannya sebagai kebutuhan, dan menganggap shalat sebagai beban. Sedangkan golongan yuraaun (QS. 107: 6) adalah mereka yang melakukan shalat dengan niat yang tidak ikhlas, ibadah shalatnya ternodai perasaan atau keinginan dipuji atau dilihat orang lain, motivasi shalatnya bukan kesadaran. Wallahu alam bish-shawab.
(ASM Romli [Republika.co.id] )

semoga manfaat

sumber: disarikan dari Petikan Hikmah Isra Miraj
Sabtu, 11 September 2004, 08:43 WIB
Original Data : percikan-iman.com

Tags : ilmu

More :

0 Respon to "Isra Miraj"

Comment visitor

Name* :
Email* :
Website :
Comment* :
Caphca* :
   
   

Kontak •  Berita •  Lowongan •  Gallery •  Al-Quran Online •  Peta Situs •  RSS